Minggu, 29 November 2009

TUGAS NOVEL NIH

  1. Judul : Katak Hendak Jadi Lembu
  2. Pengarang : Nur Sutan Iskandar
  3. Penerbit : PT Balai Pustaka
  4. Cetakan : Kesebelas,2008
  5. Tebal buku : 224 halaman
  6. Ringkasan :

Buku ini bercerita tentang seseorang yang selalu ingin dianggap tinggi dan dihormati. Itulah deskripsi singkat tentang Suria, seorang mantri Kabupaten Sumedang. Suria memiliki tiga orang anak bersama istrinya, Zubaidah, yaitu Abdulhalim, yang tertua, Saleh, dan Aminah. Ia adalah orang yang gila hormat. Maka dari itu, biarpun hidup tidak sejahtera, ia sudah cukup senang bila semua orang sudah memandangnya tinggi dan ‘menyembah-nyembah’ padanya.

Di lain pihak,Zubaidah sudah semakin khawatir dengan sikap bermewah-mewah suaminya. Rumahnya penuh dengan perkakas yang mahal, akan tetapi Suria melakukannya hanya agar dipandang semua orang sebagai orang kaya. Sudah berulang kali Zubaidah mengingatkan Suria mengenai hal itu, tetapi Suria selalu memandang istrinya terlalu cerewet dan tidak tahu apa-apa. Padahal, penghasilan Suria kecil, bahkan ia tidak sanggup membayar uang sekolah anak-anaknya sendiri.

Pada suatu hari, seperti biasa, Suria datang ke kantornya. Dan saat itu, ia melihat seorang pegawai baru yang menjadi asisten wedana bernama Kosim. Suria pun ingin menunjukkan kuasanya dengan selalu mempermalukan dan menyuruh-nyuruh Kosim. Pertentangan antara Suria dan Kosim terus berlanjut hingga Kosim dapat membuktikan bahwa dirinya lebih baik daripada Suria dengan memperoleh jabatan klerk, yang penghasilannya lebih tinggi dari mantri kabupaten. Suria kembali dibuat kesal oleh Kosim karena Kosim berhasil menikah dengan Fatimah, seorang gadis yang tadinya ingin dinikahi Suria hanya karena hartanya.

Akibat kebangkrutan hidupnya di Sumedang, Suria pun mencuri uang kantor. Dan agar tidak ketahuan, ia pun cepat-cepat mengundurkan diri dari kantor dan pindah ke Bandung dan menumpang pada anaknya, Abdulhalim,yang telah menikah dengan seorang gadis bernama Sutilah. Suria tidak memberi kesan baik di rumah anaknya. Ia sering mengomentari segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga anaknya dan ia tidak bekerja, hanya menggantungkan hidupnya pada anaknya.

Lama kelamaan, karena kesal, anaknya berencana mengusir Suria keluar. Hal itu didengar oleh Zubadiah. Zubadiah pun terkena penyakit jantung dan meninggal. Mendengar itu semua, Suria geram dan meninggalkan anaknya tanpa memiliki harta apapun. Ia pun pergi ke desa untuk mencari kerja, dan secara kebetulan bertemu dengan pembantunya saat kecil dulu,Mak Iyah. Dengan setengah hati, karena tidak mendapat pekerjaan, ia bekerja membantu Mak Iyah menganyam topi. Selama di sana, ia terus memikirkan kesalahannya. Pada akhirnya, suatu pagi, Suria pun menghilang tanpa jejak dan tanpa sebab yang jelas.

  1. Opini :

Menurut saya isi buku ini amat menarik. Tema yang diangkat lain daripada biasanya, meski masih berhubungan dengan kegiatan masyarakat saat itu. Buku ini menceritakan mengenai keangkuhan manusia, sesuatu yang penting tetapi sering dilupakan.Selain itu, penokohannya juga unik. Seperti pada tokoh Suria. Suria dianggap sebagai tokoh utama yang ‘jahat’ pada cerita tersebut.Tetapi, tidak seperti pengarang lainnya, Suria tidak digambarkan sebagai tokoh yang bengis, sadis, dan sebagainya. Namun, ia hanya digambarkan sebagai tokoh yang tidak mau kalah dan bahkan, tokoh yang sensitif di akhir cerita

Selain itu, alur cerita juga amat menarik. Dimulai dari permulaan di mana Suria masih dalam masa kejayaannya, kemudian digambarkan Suria yang mempunyai pesaing, dan Suria saat sudah putus asa. Ini membuat pembaca menjadi penasaran dengan kelanjutan cerita. Akan tetapi sayang sering kali hubungan antara satu komponen dengan komponen lainnya masih kurang jelas. Seperti Haji Junaedi yang terlihat ‘menyembah-nyembah’ Suria yang dijelaskan dalam 2 bab, akan tetapi kemudian masalah itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Ini membuat hubungan antara cerita tersebut dengan keseluruhan cerita menjadi tidak jelas.

Akan tetapi, dengan kelebihan-kelebihan lainnya, kekurangan buku tersebut menjadi tertutupi. Alurnya yang menarik, tema yang menceritakan kisah moral dalam masyarakat, dan penokohan yang unik menjadikan buku ini patut menjadi salah satu koleksi penggemar novel sastra.

  1. Pelajaran Moral :
  • Kita harus sering berhemat dan jangan mau bermewah-mewah karena nantinya hasil dari kita berhemat dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna. Ini terlihat dari pengalaman yang dialami Suria. Suria digambarkan selalu memberi barang mewah dan barang-barang yang sebenarnya tidak ada gunanya. Akan tetapi, karena kelakukannya itu, ia pun menjadi tidak sanggup membayar uang sekolah anaknya dan sering dikejar penagih hutang.
  • Buku ini juga mengajarkan kita untuk tidak sombong atas hasil kerja kita atau tingkatan kita. Bila kita sombong, akan banyak hal negatif yang menimpa kita yang menghalangi kita untuk berkembang. Ini terlihat pada tokoh Suria yang selalu gila hormat dan angkuh. Ini menyebabkan banyak orang yang kesal atau takut padanya. Sehingga, saat ada yang berhasil memberontaknya, tidak ada satupun yang berpihak pada Suria.
  • Selain itu, kisah dari Kosim mengajarkan kita untuk tidak mendendam. Dendam hanya akan menghasilkan kekacauan, akan tetapi dengan damai, kita dapat mengembangkan diri dan lingkungan kita sepenuhnya. Pada cerita tersebut digambarkan Kosim amat dendam pada Suria. Justru karena kedendaman itulah, Suria menjadi bertambah kesal dan suasana kerja menjadi tidak kondusif. Tetapi saat ia mencoba untuk melupakannya, suasana menjadi tenang kembali dan masalah itu langsung terlupakan.
  • Pelajaran lain yang dapat kita ambil bahwa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tidak perlu banyak bicara, tetapi justru melakukan suatu usaha. Hal ini tercitra pada tokoh Suria yang selalu memberitahukan semua orang bahwa ia akan menjadi klerk, padahal dirinya sendiri tidak melakukan suatu usaha untuk mendapatkan posisi tersebut. Akhirnya, justru seorang pegawai maganglah yang mendapatkan posisi tersebut







Tokoh:

l Samaria

l Suria

l Haji Hasbullah

l Zubaedah

l Raden Prawira

l AbdulHalim

Tema:

Masalah bangsawan Sunda yang tidak mau bekerja keras yang terlalu bangga terhadap kebangsawanannya. Atau masalah manusia yang suka berbuat sesuatu dan mengharapkan sesuatu diluar batas kemampuannya sendiri

Alur maju:

n Haji Hasbullah dengan berat hati menerima lamaran Haji Zakaria yang hendak mengambil Zubaedah untuk dijadikan isteri anaknya yang bernama Suria

n Keberatan Haji Hasbullah lainnya adalah karena Suria dimata Haji Hasbullah adalah termasuk pemuda yang angkuh, kasar, pongah, serta suka berfoya-foya.

n Walaupun sudah punya istri, sifat dan tingkah laku Suria tidak berubah sedikit pun.

SETTING:

Cerita ini berlatar belakang masyarakat bangsawan sunda. Tempat kejadiannya adalah di kota Bandung, Sumedang, Cirebon, serta Tasikmalaya Jawa Barat

Amanat:

Jangan sombong, angkuh

Jangan memaksakan kehendak

Jangan boros / Jangan suka berfoya – foya

Harus patuh pada orang tua

Sabar dalam menghadapi cobaan / Masalah

Sudut Pandang : Orang pertama

Gaya penulisan : Masih menggunakan bahasa melayu dan terdapat banyak majas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar